Mediaex Manado – Wali Kota Manado Budaya Harus Jadi Pengikat, Bukan Alat Sekat Kota Manado kembali menegaskan identitasnya sebagai kota yang hidup dalam keberagaman. Dalam sebuah kesempatan, Wali Kota Manado menyampaikan pesan kuat tentang peran budaya di tengah masyarakat. Menurutnya, budaya tidak boleh dijadikan tembok pemisah, melainkan jembatan yang mengikat perbedaan menjadi satu kesatuan.
baca juga: Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Manado Jadi Panggilan untuk Jaga Nilai dan Lingkungan
“Budaya adalah rumah kita bersama. Ia harus mengikat, bukan menjadi sekat yang membuat kita terpecah,” tegas Wali Kota dalam sambutannya yang disambut hangat para undangan.
Kota Multikultural yang Hidup dalam Toleransi
Manado dikenal sebagai salah satu kota paling plural di Indonesia. Etnis Minahasa, Gorontalo, Tionghoa, Arab, hingga pendatang dari berbagai daerah hidup berdampingan dengan rukun. Ditambah lagi, agama yang beragam—Kristen, Islam, Katolik, Hindu, dan Buddha—mewarnai kehidupan sosial sehari-hari.
Di tengah perbedaan itu, semboyan lokal “Torang Samua Basudara” menjadi semacam falsafah hidup.
“Kita boleh berbeda bahasa, adat, bahkan keyakinan.
Budaya Bukan Komoditas Politik
Ia menilai hal ini berbahaya karena bisa menimbulkan eksklusivitas.
“Tidak boleh ada yang merasa lebih asli, lebih utama, atau lebih berhak hanya karena membawa nama budaya tertentu. Budaya adalah identitas Mereka menilai langkah ini penting, terlebih ketika masyarakat semakin mudah terbelah oleh isu identitas.
Strategi Pemkot: Dari Festival Hingga Pendidikan Multikultural
Untuk memperkuat peran budaya, Pemerintah Kota Manado menyiapkan berbagai program.
Selain itu, pemerintah juga akan melibatkan komunitas seni, organisasi adat, dan kelompok pemuda dalam proyek kebudayaan. “Kami ingin semua pihak merasa memiliki, bukan sekadar menjadi penonton,” jelas Wali Kota.
Dari Perekat Sosial Menjadi Daya Saing Global
Lebih jauh, Wali Kota menekankan bahwa budaya tidak hanya penting untuk harmoni sosial, tetapi juga bisa menjadi motor ekonomi kreatif. Dengan potensi kuliner, musik, tari, dan seni tradisional, Manado bisa tampil sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia timur.
“Kalau budaya mampu memberi penghidupan, ia akan terus bertahan.
Harapan untuk Generasi Muda
Akademisi dari Universitas Sam Ratulangi menilai pesan ini relevan bagi generasi muda. Menurutnya, anak muda Manado kerap lebih akrab dengan budaya global lewat media sosial, sementara budaya lokal terpinggirkan. Dukungan pemerintah menjadi penting agar warisan leluhur tetap dekat di hati generasi baru.
“Anak muda harus paham bahwa budaya bukan hanya masa lalu, tetapi juga modal untuk masa depan,” ujar seorang dosen antropologi.
Menatap Manado yang Rukun dan Mendunia
Di akhir sambutannya, Wali Kota mengajak seluruh warga menjaga warisan budaya sebagai perekat.
“Budaya harus kita jaga bersama. Jangan sampai jadi tembok yang memisahkan, tetapi biarlah jadi jembatan yang menyatukan. Dari Manado, kita tunjukkan pada dunia bahwa keberagaman adalah kekuatan,” pungkasnya.





